Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Batik.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sebuah judul yang menggambarkan betap bermaknanya sebuah batik bagi bangsa Indonesia. Batik bukan hanya sekadar baju biasa dengan motif yang digunakan untuk sehari-hari. Tetapi, batik lebih dari pada itu.

Banyak makna yang coba disampaikan dari sebuah kain batik.

Sederhananya Batik merupakan kain putih atau biasa disebut dengan mori, dimana dikain tersebut sudah dilukiskan motif yang berasal dari cairan lilin malam. Alat yang digunakan untuk menulis pun berbeda daripada alat-alat biasanya. Canting Namanya.

Sejarah Batik

Batik sebenarnya telah hadir sejak berkembangnya Kerajaan Majapahit. Ada beberapa catatan menarik kalau kegiatan membatik ini sudah dilakukan sejak Zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Teknik dalam membatik sudah dikenal lebih dari 1000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir Kuno dan Sumeria. Teknik batik pun meluas hingga negara-negara Afrika bagian barat, dan terus hingga ke Asia, dan ke Indonesia. Mungkin dulu batik lebih banyak digunakan oleh keluarga kerajaan saja.

Makna dan Nilai sebuah Batik

Sebuah kebanggan bagi bangsa kita, tepat 10 Tahun lalu UNESCO menjadikan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Hal ini dikarena nilai filosofi dari batik yang sangat tinggi. Jika kita kembali meruntut secara terminologi dan etimologi, batik berasal dari kata “mbat” (melempar) dan “titik”, yang berarti melempar titik berkali pada sebuah kain, dan dari sebuah titik itu pun menjadi ragam hias dengan nilai budaya tinggi hakikatnya mengandung tuntunan Kehidupan.

Motif dan Pola Batik.

Batik Motif Parang Rusak Barong, batik yang memiliki kerumitan dalam membuatnya merupakan kerumitan yang cukup tinggi, Batik motif ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang dimana ketika bertapa di sepanjang jajaran pegunungan pesisir selatan Pulau Jawa yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris, tempat tersebut pun dinamainya “parang”, karena salah satu tempat tersebut ada bagian  yang rusak, sehingga diberi nama “parang rusak”, untuk kata “barong” sendiri diambil dari sesuatu yang besar yang dianggap sebagai roh pelindung dan lambang dari kebaikan.

 

Sebuah makna yang cukup tinggi dari sebuah ukiran batik, Motif ini merupakan induk dari semua motif parang. kata “parang” juga bisa diartikan sebagai“Senjata”, melambangkan sebuah kekuatan dan kekuasaan.  Ke ekslusifan inilah yang menjadikan batik ini hanya digunakan oleh Raja. Makna yang tersirat adalah Raja ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya menjadi seorang raja dengan berbagai tuganya, dan kesadarannya sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta sehingga harus selalu berhati-hati dan dapat mengendalikan dirinya.

Berikut ini motif batik tersebut.

Motif Wahyu Temurun  Motif yang juga memiliki makna yang terkandung didalam batik tersebut. Di dalam motif ini ada beberapa gambar yang terlihat cukup jelas. Ada mahkota, bunga-bunga, kemudian ayam jago, dan beberapa gambar lainnya.

Gambar mahkota yang merupakan symbol utama dari batik ini, memiliki filosofi yang menggambarkan pengharapan agar para pemakainnya untuk mendapatkan petunjuk, berkah, rahmat, dan anugerah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Gambar bunga-bunga melambangkan tersebarnya semua kebaikan-kebaikan. Dan gambar-gambar yang lain pun sama melambangkan sebuah kebaikan dan arahan akan hidup.

Pada dasarnya pola-pola yang tercipta, garis dan titik yang akhirnya membentuk sebuah motif batik, berisikan doa-doa dan pengharapan tersendiri para ilahi.

Berikut motif batik Wahyu Temurun

Harapan 10 Tahun Hari Batik

Tepat bertepatan pada 2 Oktober 2019 ini menjadi salah satu peringatan hari batik yang ke 10 tahun, sebuah perjalanan Panjang yang dilakukan oleh para pengrajin batik untuk meyakinkan dunia akan perlunya pelestarian batik bagi bangsa Indonesia. UNESCO sendiri pun menjadikan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia.

Dulu mungkin batik hanya digunakan oleh kalangan elit, ataupun raja-raja yang tinggal dunia keraton. Semenjak dinobatkannya batik sebagai warisan budaya oleh UNESCO akhirnya pertumbuhan dan penggunaan batik menjadi sesuatu barang yang digunakan oleh khalayak luas.

Saat ini Indonesia betul-betul kekurangan pengrajin yang menekuni kegiatan membatik. Hal ini dikarenakan membatik dianggap bukan pekerjaan yang keren dan menghasilkan banyak materi, bahkan fakta mengejutkannya, ada beberapa rumah pembatikan diJogja, Solo, pekalongan yang keturunannya tidak mau meneruskan usaha keluarganya.

Diharapkan kedepannya lewat hari batik ini tidak hanya sebagai keceriaan kita dalam memakai batik saja, melainkan ikut juga memaknai batik sebagai warisan budaya nenek moyang yang sangat indah dan penuh dengan makna dan filosofi.

 

 

CONTACT US

Ph. +62 21 299 66 900

Fax. +62 21 526 9587

support@inet.net.id

INET Head Office

Cyber 1 Building,

5th Floor Jl. Kuningan Barat No. 8

Jakarta 12710 – Indonesia